Danang Ambar Prabowo
Assalamualaikum wr. wb.
Kali ini saya mau ngeposting tentang salah seorang yang memberi motivasi
kepada banyak orang, dan ia bernama Danang ambar prabowo,
Munkin
timbul pertanyaan kenapa saya posting tentang mas danang ini, salah satu
jawaban saya adalah ia juga telah menginspirasi saya dan banyak orang, kemudian
sudah banyak saya menjalani penayangan slide video mas danang ini di berbagai
tempat, waktu saya sekolah videonya juga ditampilkan, waktu orientasi kampus
videonya juga ditampilkan,dan masih banyak tempat yang saya lihat video
bagaimana mas danang ini mereih mimpinya.
Nah
ini adalah sedikit tentang kisah atau biodata mas danang yang telah saya
baca-baca.
Perkenalkan, saya Danang Ambar Prabowo. Mahasiswa tingkat akhir Departemen
Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor. Saat ini, saya tengah menempuhstudent exchange program di
Utsunomiya University, Jepang, selama 1 tahun di bawah laboratorium
Biokimia dan pusat riset genetikanya.
Di luar aktivitas akademis, saya turut aktif dalam kegiatan dakwah tarbiyah
di kampus dan juga beberapa organisasi yang peduli terhadap edukasi dan
lingkungan dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu saya
juga menaruh minat dan mendalami olahraga beladiri, fotografi, dan pengembangan
sumberdaya manusia secara profesional.
Salah satu cita-cita besar yang kini tengah saya perjuangkan adalah meraih
Nobel atau penghargaan internasional lainnya demi keharuman bangsa Indonesia di
mata dunia dan juga demi dakwah. Tak ada yang tak mungkin saya wujudkan dari
sebuah mimpi, selama hal tersebut terus saya perjuangkan dalam keridhoan Allah.
Pun semua yang saya raih saat ini mulanya hanyalah mimpi-mimpi yang saya
tuliskan di atas kertas usang dan mulanya begitu banyak yang mentertawakan dan
mencemoohnya.
Karena saya menyadari bahwa masa depan yang cerah ditentukan dari pilihan
dan tindakan strategis apa yang kita ambil saat ini dan bukan sekedar sesuatu
yang terjadi secara kebetulan semata. Maka dengan menyadari hal tersebut, insya
Allah akan kita pahami bahwa setiap detik yang kita miliki sangatlah teramat
sayang jika dilewati tanpa torehan prestasi.
Melalui Mendiknas dan Dirjen Dikti, pemerintah Republik Indonesia
menganugerahkan saya sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres; dahulu mahasiswa
teladan) Terbaik 1 tingkat nasional tahun 2007. Dan melalui tulisan ini, saya
ingin mengajak Anda semua menyadari hakikat dasar bahwa setiap diri Anda adalah
pribadi yang penuh prestasi dalam bidang Anda masing-masing. Dan dengan itu
saya berharap Anda mampu mewujudkan impian-impian Anda.
Maka saatnya kini mengukir prestasi dengan gilang gemilang dan menyongsong
masa depan yang paling cerah!
Saya akan memulai dari tiga pertanyaan sederhana yang sering diajukan
kepada saya dalam berbagai kesempatan diskusi.
1. Apa makna prestasi dan penghargaan menurut saya?
Pertama, yang perlu dicatat bahwa pendapat saya ini bukanlah yang terbaik
apalagi yang paling benar. Namun saya berusaha akan memberikan penjelasan
sesuai dengan pola pikir saya dan beberapa masukan yang selama ini pernah saya
dapatkan dari sosok-sosok prestatif lainnya.
Prestasi menurut saya secara umum adalah kewajiban akan sesuatu yang harus
diraih oleh setiap insan. Bahkan prestasi adalah kodrat setiap manusia yang
pasti akan diraihnya. Dimulai dari proses kelahiran Anda ke dunia, Anda sudah
menjadi ditakdirkan menjadi pemenang. Pernahkah berpikir bahwa saat itu Anda
adalah satu-satunya sperma dari sekian juta sperma yang berhasil membuahi sel
telur melalui perjuangan berat? Dan hasil dari perjuangan itu adalah Anda saat
ini yang tengah membaca tulisan saya ini. Anda adalah pemenang yang dilahirkan
di dunia. The Born Winner!
Maka jika telah memahami dasar itu, kini saatnya Anda kembali bersiap untuk
bersaing. Karena bukan Anda saja satu-satunya manusia yang dilahirkan di dunia
ini bukan? Mereka yang terlahir ke dunia pun adalah pemenang. Nah, raihan
prestasi (achievement)-lah yang akan membedakan Anda sebagai pemenang
diantara manusia-manusia pemenang lainnya.
So… kita mulai dengan memahami makna prestasi terlebih dahulu. Maka jika
ditanya tentang “apa itu prestasi?”, yang akan terbayang di benak
setiap orang pada umumnya secara spontan adalah sosok juara, entah itu juara
kelas, ataupun juara-juara lainnya yang berkaitan dengan nilai akademis.
Demikian bukan?!
Tidak salah memang yang demikian. Namun belum mencakup makna prestasi
secara utuh. Juara di kelas atau keberhasilan meraih nilai terbaik (sempurna)
dalam ujian hanyalah satu bagian dari perwujudan makna prestasi. Maka mulai
dari sekarang hendaklah kita perluas wawasan kita tentang makna prestasi.
Maka makna prestasi secara khusus menurut saya adalah suatu pencapaian (achievement),
peningkatan (improvement), atau perubahan menuju sesuatu yang lebih baik
dari kondisi sebelumnya. Apapun itu, sekecil apapun itu, asalkan lebih baik
dari kondisi semula maka itu adalah prestasi. Contoh sederhananya:
Jika kemarin Anda bangun sholat subuh 1 menit setelah adzan berkumandang,
namun hari ini Anda bangun 1 detik lebih cepat dari catatan waktu hari
sebelumnya… itu adalah prestasi! Meskipun hanya berbeda 1 detik. Karena Anda
lebih baik dari hari kemarin.
Hanya sayang sekali sedikit dari kita yang menyadari itu dan kemudian
berorientasi selalu untuk mengejar prestasi yang besar-besar saja. Sekedar
ingin cepat dikenal dan tenar. Padahal, bukankah berpuluh tahun bangsa kita
memiliki pepatah bijak: “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.
Cukup lama saya memperhatikan secara langsung bagaimana bangsa Jerman dan
Jepang yang terkenal di dunia itu begitu menghargai pencapaian sekecil apapun
dari usaha orang lain. Saya masih teringat ketika duduk di bangku kelas 4 SD di
Jerman, ada seorang teman saya bernama Oliver yang memiliki sedikit
keterbatasan mental di banding teman-teman lainnya di kelas. Suatu hari di
kelas melukis, guru seni kami menugaskan kami untuk melukis pohon yang daunnya
bewarna warni tatkala musim gugur tiba. Tiba-tiba tanpa sengaja Oliver
menumpahkan cat warna di atas setengah kanvasnya hingga warnanya menjadi tak
karuan. Saya dan teman asal India mentertawainya karena kecerobohannya itu
sementara sebagian anak-anak Jerman ada yang memilih tetap diam atau
membantunya.
Ketika guru seni kami melihat kejadian itu, beliau menghibur Oliver dan menyemangatinya
untuk terus melukis di atas kanvas yang telah berlumuran cat warna itu.
Sementara saya dan teman dari India mendapat teguran untuk tak mentertawakan
teman yang tengah kesulitan. Dan tahukah Anda bahwa lukisan abstrak aneh Oliver
itulah yang di kemudian hari mendapat paling banyak pujian dari para pengunjung
pameran akhir tahun dan kelulusan angkatan saya tahun 1996. Meski Oliver
akhirnya tak bisa melanjutkan ke sekolah umum setelah tamat SD karena
keterbatasannya, namun saya dan saya yakin juga orang-orang yang hadir saat itu
akan selalu ingat bagaimana ekspresi Oliver ketika ia berkata di atas panggung:
“Ich bin nicht wie euch, als normale leuten. Aber sicher diesmal kann
ich tun es besser als euch… (Aku tak seperti kalian yang normal. Tapi
aku kali ini aku bisa melakukannya lebih baik dari kalian)” sambil dengan penuh
kebanggaan menjunjung lukisan abstraknya, prestasinya itu. Dan sejak saat itu
pula saya berjanji untuk tak pernah lagi memandang rendah pencapaian seseorang
seberapapun itu.
Mungkin saya mentertawakan Oliver saat ia menumpahkan cat di kanvasnya
karena terbawa iklim sosial Indonesia yang jarang menghargai pencapaian orang
lain dalam kehidupan sehari-harinya.
Lain Jerman lain Jepang. Di negeri matahari terbit ini saya sangat sering mendengar
orang Jepang mengatakan kata “Sugoi” yang berarti hebat, keren,
atau menakjubkan dengan ekspresi penuh dan sungguh-sungguh.
Sedikit-sedikit Sugoi… ada anak TK bisa nendang bola: “Sugoi”,
ada bocah kecil bisa nyanyi lagu yang sama berulang-ulang meski belepotan, maka
tak henti-hentinya saya mendengar: “Sugoi!” dari orang-orang di
sekitarnya. Dan begitu juga teman di lab saya ketika saya mencoba berbicara
dengan bahasa Jepang yang amburadul…: Sugoi!!! Demikian budaya Jepang
menyemangati orang lain untuk selalu bisa lebih baik!
Kata lain yang sering saya dengar juga adalah: “Oishi” (lezat
atau enak untuk makanan). Pernah teman saya membawa manisan khas Okinawa ke
lab. Satu persatu anak lab mencicipinya termasuk sensei. Maka
bersahut-sahutanlah kata: “Oishi” bahkan “Sugoi Oishi” bergema.
Ketika giliran saya tiba mencicip… ternyata rasanya hambar malah aneh,
namun demi melihat wajah seluruh anggota lab menanti pendapat saya… maka saya
pun berkata: “Oishi!” maka sumringahlah wajah mereka. Dan sejak saat itu
juga saya belajar bahwa bangsa Jepang sangat menghargai makanan sedikit dan
seenak (atau tak seenak) apapun itu.
Dan secara psikologis pula penghargaan sekecil apapun pada pencapaian
sekecil apapun itu akan memicu semangat positif untuk mencapai sesuatu yang
lebih baik dari waktu ke waktu.
Maka… demikianlah makna prestasi dan penghargaan menurut saya. Sekecil
apapun kebaikan yang berhasil Anda raih saat ini, itu adalah prestasi Anda. Dan
semakin banyak yang menghargai prestasi Anda itu, akan semakin kuat semangat
berprestasi itu. Tapi jangan menunggu orang lain menghargai prestasi Anda itu.
Mulailah dari diri Anda sendiri…
Paling tidak berteriaklah…:”Sugoi!!”
2.Mengapa Saya Harus Berprestasi?
Insya Allah saya telah menjelaskan makna prestasi menurut saya pada
pembahasan sebelumnya. Dan sangatlah penting memahami makna dasar prestasi
sebelum kita menyusun langkah-langkah jitu untuk menorehkan prestasi kita
nantinya. Sekedar me-review bahwa makna dasar prestasi menurut saya
adalah:
“Pencapaian (achievement), peningkatan (improvement), atau perubahan menuju
sesuatu yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Apapun itu, sekecil apapun
itu, asalkan lebih baik dari kondisi semula maka itu adalah prestasi.”
Nah… sekarang kita telah memahami makna dasar prestasi. Lalu mengapa saya
harus berprestasi? Jawaban paling mudah yang bisa saya berikan secara spontan
adalah: “Agar saya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.”
Saya kemudian menyadari satu hal yang penting, bahwa ketika saya bisa
menjadi lebih baik dari sebelumnya (berprestasi), secara langsung maupun tak
langsung saya turut memberikan dampak positif pada orang-orang di sekitar saya,
selain tentunya bagi saya sendiri. Dan itupun melibatkan pertimbangan matang
untuk mengambil keputusan secara tepat dalam kondisi diri optimal dan tenang.
Contoh paling mudah yang pernah saya alami adalah ketika suatu sore saya
datang terlambat 10 menit ke latihan terpadu Taekwondo saat SMA dulu. Mulanya
saya menganggap keterlambatan saya itu sebagai hal biasa dan tak menjadi
masalah besar karena memang jarak dari rumah ke tempat latihan cukup jauh.
Namun ternyata 10 menit yang saya lewatkan tersebut adalah saat terpenting
latihan sore itu, karena di sanalah absensi penentuan siapa yang boleh ikut
ujian kenaikan tingkat bulan berikutnya ditentukan. Dan saya satu-satunya
anggota taekwondo yang tidak tercatat sebagai peserta ujian kenaikan tingkat
tersebut. Betapa kecewanya saya dengan keputusan itu.
Saya mencoba melobi dengan berbagai alasan, namun kedisiplinanSabeum (pelatih
taekwondo) saya saat itu tak bisa digoyahkan untuk mengubah daftar peserta hari
itu. Seolah latihan saya selama ini tak ada gunanya dan harus menunggu ujian
berikutnya yang tentunya masih sangat lama. Saya melewatkan latihan sore itu
tanpa semangat, apalagi mendengar percakapan teman-teman yang begitu bahagia
akan ikut ujian kenaikan tingkat bulan depan.
Di saat itulah saya harus berani mengambil langkah penting dan jitu untuk
kedepan. Hanya ada dua pilihan: Keluar dari tim taekwondo SMA atau terus nekad
latihan meski harus berbeda sabuk dengan teman-teman satu angkatan yang berarti
saya harus siap menanggung malu sebagai satu-satunya anggota tim yang tak naik
tingkat, karena alasan sepele… terlambat datang saat latihan!
Alhamdulillah, di kemudian hari setelah kejadian itu saya tetap memutuskan
untuk terus latihan taekwondo. Datang paling awal, menyapu lantai tempat
latihan, menyiapkan alat-alat latihan, dan lainnya. Meski di sisi lain saya
menghadapi tekanan dan rasa malu sebagai satu-satunya sosok yang tak akan ikut
ujian, apalagi pelatih saya seolah tak memperhatikan saya karena sibuk
menyiapkan teman-teman yang akan ikut ujian kenaikan tingkat.
Hingga di suatu sore setelah latihan dan seminggu menjelang ujian kenaikan
tingkat dilaksanakan, pelatih senior saya memanggil saya dan berkata dengan
bijak:
“Nang, taekwondo itu bukan dinilai dari sabuk warna apa yang engkau
kenakan. Kalau sekedar ingin keren-kerenan memakai sabuk berwarna, yang hitam
sekalipun, tak perlu susah-susah latihan taekwondo atau ikut ujian kenaikan tingkat
juga bisa, mudah sekali malahan. Cukup beli sabuk di toko, terus kamu pakai
saat latihan. Tapi apakah kemudian sabukmu itu yang menjamin kamu paham dan
bisa melakukan teknik-teknik taekwondo? Enggak kan! Sabuk apa yang engkau
pakai, akan ada tanggung jawabnya. Cukuplah sabukmu tetap yang paling rendah
tapi teknikmu setingkat sabuk yang paling tinggi.
Sebenarnya Sabeum hanya mau memberi pelajaran padamu bahwa apapun yang
engkau lakukan itu harus selalu penuh keseriusan dan kedisiplinan. Termasuk
saat latihan taekwondo ini. Sabeum ingin melihat apakah kamu bisa dan mau
berubah menjadi lebih baik atau justru menyerah setelah keputusan dahulu itu.”
Sejak saat itulah tak ada lagi beban saat latihan taekwondo di kemudian
hari bersama teman-teman saya yang sabuknya setingkat lebih tinggi. Saya
menyadari bahwa saya harus selalu menjadi lebih baik setiap waktunya, sedikit
apapun perubahan itu, yang pasti harus lebih baik. Dan saya membuktikan satu
tahun kemudian setelah peristiwa itu, dari 30an anggota tim taekwondo SMA, saya
adalah satu dari dua orang yang berhasil meraih medali bagi tim SMA di
Kejuaraan Daerah Taekwondo tingkat Pelajar tahun 2002.
Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi saya pribadi ketika meraihnya,
apalagi setelah latihan panjang dan keras selama itu. Bagi orang di sekitar
saya, melalui prestasi yang saya raih itulah, kemudian saya bisa bermanfaat
bagi orang lain dengan turut aktif melatih anggota tim taekwondo SMA
setelahnya. Tak lupa saya selalu menyelipkan nasehat pelatih saya dulu tentang
filosofi taekwondo. Dan alhamdulillah di tahun-tahun berikutnya tim taekwondo
SMA saya dapat meraih lebih banyak medali bahkan hingga tembus ke kejuaraan
nasional sebagai salah satu pemenangnya.
Saya tak menganggap bahwa saya satu-satunya sosok yang berperan atau
berjasa di sana. Pastinya banyak pihak juga yang tak kalah penting perannya.
Namun yang saya catat adalah ketika saya mampu berprestasi maka raihan prestasi
saya itulah yang menjadi bukti penguat ketika mengarahkan orang lain. Akan
lebih sulit bagi saya untuk menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan ini
dan itu dengan tujuan agar mereka menjadi lebih baik jika saya sendiri tak
pernah mampu menjadi bukti itu sendiri.
Termasuk juga dengan tulisan saya ini. Tentu Anda akan menganggap tulisan ini
hanya sebagai angin lalu, atau saya sekedar berteori semata jika saya sendiri
tak pernah mengalaminya sendiri. Maka jika saya bisa menjadi bukti konkrit itu
sendiri, insya Allah, apa yang saya sampaikan akan membuat Anda menjadi lebih
yakin bukan?!
Semakin bagus prestasi Anda (ingat kembali makna dasar prestasi) akan
semakin tinggi kredibilitas dan nilai diri Anda di mata orang lain yang berarti
akan semakin luas jangkauan Anda untuk bermanfaat bagi orang lain.
Contoh lain yang lebih menakjubkan adalah sosok Rasulullah,
Muhammad SAW. Bagaimana beliau benar-benar mengaplikasikan makna dasar
prestasi dalam kehidupannya. Setiap detik hidup beliau adalah tentang prestasi.
Menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hingga sebelum diangkat menjadi Nabi atau
menorehkan prestasi sejarah secara gilang gemilang pun orang-orang di
sekitarnya telah mengakui keunggulan akhlaknya hingga ia dijuluki Al Amin (yang
dipercaya). Maka perlahan ia pun menjadi panutan dan teladan bagi orang-orang
disekitarnya, dicintai dan mencintai semua orang. Dan dari “prestasi” beliaulah
kemudian beliau bisa bermanfaat bagi orang lain. Hal itu tentu tak lepas dari
apa yang beliau raih yang kemudian menjadi teladan (bukti) bagi orang lain.
Dan di sisi lainnya… tentu prestasi yang Anda raih merupakan wujud
kesyukuran diri Anda pada Allah karena Anda telah mau dan mampu mengoptimalkan
apa yang telah Allah berikan pada Anda untuk sesuatu yang baik.
Dengan meraih prestasi pula berarti Anda mau menghargai waktu, diri Anda
sendiri, dan perjuangan orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah kedua
orang tua Anda. Anda harus berprestasi karena itu adalah salah satu cara Anda
membuktikan bahwa apa yang sudah Anda pelajari dalam hidup ini ada hasilnya.
Dan semua itulah yang akan membawa anda menjadi yang akan diperhitungkan di
masa depan.
Nah demikianlah salah satu alasan sederhana mengapa saya dan juga Anda
harus berprestasi. Tentunya agar bermanfaat bagi diri Anda sendiri dan juga
orang lain dalam lingkungan di sekitar Anda.
Jadi mengapa harus ragu lagi???… teriakkan dengan lantang:
“Setiap detiknya, Saya harus berprestasi!!!”
Harapannya adalah ada satu titik terang dalam diri Anda bahwa siapapun
Anda… apapun latar belakang Anda, dan bagaimanapun kondisi Anda… tak ada yang
salah dengan itu selama Anda mau dan mampu untuk terus bergerak menjadi lebih
baik.
Saya kutipkan sedikit inti dari E-Mail tersebut adalah sebagai berikut:
“…wah Mas Danang sih enak. Latar belakangnya mendukung, keluarga juga tak
ada masalah. Selalu berkecukupan, baik dari kondisi Mas sendiri maupun dari
kondisi lingkungan di sekitar Mas. Udah bawaannya pintar dan cerdas. Jadi mau
meraih prestasi apapun juga mudah. Gak seperti saya Mas… Keluarga saya ( dia
menceritakan begini dan begitu…), orang desa yang pas-pasan pengetahuannya, saya
hidup berkecukupan, mau sekolah juga kadang harus banting tulang… Gimana mau
saya berprestasi dibanding anak-anak yang jauh lebih makmur hidupnya dibanding
saya… Mas sih enak bisa ngomong ini itu karena itu mudah bagi Mas…”
Saya tersenyum membaca isi E-Mailnya… tapi bukan untuk meledek atau
meremehkannya. Mungkin sebuah senyum yang diperlihatkan oleh seorang kakak
kepada adiknya ketika mendengar curahan hatinya. Ketika hendak menekan
tombol reply tiba-tiba saya berpikir mengapa saya tidak
mencoba berbagi hal ini di blog saja. Dengan harapan tulisan saya tersebut akan
bisa menjawab pertanyaan si pengirim email dan juga sebagai materi share di
blog ini.
Saya menjawab E-Mailnya kurang lebih begini:
“Duhai adikku sayang, saudara karena pertalian ukhuwah nan indah. Saya
memahami apa yang engkau rasakan ketika dirimu melihat bagaimana orang lain
bisa mencapai hal-hal terindah dalam mimpinya. Bisa mewujudkan apa yang ia
cita-citakan hingga semua orang suka padanya. Ia dikenal dimana-mana dan seolah
ia adalah bintang di tengah gemerlap malam.
Sementara engkau merasa sebagai orang yang paling malang. Merasa tak pernah
sedikitpun mencicip indahnya mimpi-mimpimu. Merasa tak seorangpun mengenalmu
atau tak ingin mengenalmu. Jika engkau mengibaratkan dirimu dengan malam, engkau
merasa bukanlah bintang yang bersinar, namun engkau justru merasa sebagai titik
hitam yang tertelan oleh gelapnya malam.
Engkau merasa hidupmu begitu penuh kesialan, tak ada kemakmuran, dan tak
ada keberuntungan. Yang engkau rasakan hanyalah kerja, usaha, dan banting
tulang penuh dengan ujian berat yang tak pernah berhenti. Hingga engkau begitu
menyalahkan apa yang sedang engkau miliki dan engkau dapatkan sekarang.
Saya paham itu… karena saya pun pernah seperti dirimu. Merasa, merasa, dan
hanya merasa… selalu mendapat kesialan dan kepayahan. Maka izinkanlah saya
sedikit menceritakan diri saya dahulu.
Masa kecil saya habiskan lebih banyak di desa terpencil. Selesai sekolah di
SD yang kini telah hampir tak ada murid yang mau sekolah di sana lagi itu, kegiatan
saya adalah bermain di sawah, mancing ikan, atau sekedar mengubek-ubek selokan
untuk mencari ikan bersama teman-teman. Maka jangan engkau bayangkan, duhai
Adikku, apakah aku kenal Nintendo, Playstation, atau mainan anak-anak kota
lainnya. Jika anak-anak kota punya mobil-mobilan tamiya maka bersama
teman-teman kecilku saya akan mencari pelepah pisang dan buah-buah kelapa kecil
yang berjatuhan untuk dibuat mobil-mobilan. Dan itupun saya senangnya bukan
main.
Jika anak-anak kota sudah menikmati siaran televisi di kamar keluarganya,
maka saya harus menunggu sampai listrik masuk ke desa saya saat kelas 2 SD. Mau
nonton TV pun saya harus ke kelurahan atau ke tempat orang yang dianggap kaya
di desa, dan itupun harus berjubel-jubel bersama anak-anak dan penduduk desa
lainnya hanya untuk nonton Si Unyil di minggu pagi atau terkadang Kstria Baja
hitam di selasa sore. Belum lagi jika musim hujan tiba… maka bersiap-siaplah
saya untuk menahan bau anyir dari lumpur-lumpur di kaki para “pengunjung”
lainnya.
Bapak saya lama tugasnya ke luar daerah untuk menghidupi Ibu, saya, dan
adik-adik saya, Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi saya
tahu beliau orang yang bertanggung jawab dan baik pada keluarga. Tapi jangan
kira pula masa kecil saya itu penuh dengan berbagai mainan atau barang-barang
yang lazimnya dimiliki oleh anak-anak seumuran saya. Saya masih ingat bagaimana
Ibu saya selalu marah ke saya kalau diajak jalan ke pasar kemudian saya lihat
ada mainan plastik murahan di emperan toko di perjualbelikan. Mungkin murah,
Adikku, mainan itu. Tapi sungguh tak pernah Ibuku membelikannya. Dulu saya
selalu berpikir saya adalah anak yang paling malang. Tapi bertahun-tahun
kemudian saya tahu bahwa yang beliau lakukan itu karena di satu pihak Ibu harus
hemat, sementara di sisi lainnya Ibu ingin mengajarkanku bahwa hidup itu butuh
kesabaran dan perjuangan keras, bukan sesuatu yang hanya sekedar di jalani dan
dilewati semata. Meskipun demikian Ibu saya sangatlah peduli dengan pendidikan
saya, saya kira itulah alasan mengapa ia tak ingin membuang-buang uang untuk
beli mainan tapi justru untuk biaya pendidikan. Tapi Ibu tak pernah bilang
demikian, yang ia bilang hanya… mainan tak selalu menyenangkan!
Saya lulus kelas 6 SD dari sebuah sekolah dusun yang seolah tak dianggap di
pedalaman pinggiran kota Bengkulu, demikian benar adanya, Adikku. Ketika Allah
berkenan saya melanjutkan ke SMP favorit di kota itu sebagai satu-satunya
lulusan SD yang diterima di sana, awalnya begitu banyak yang mencemooh dan
menganggap remeh sosok lulusan SD kampung. Pun guru-guru saya di awal waktu SMP
itu tak mempedulikan saya dan teman-teman yang juga dari pinggiran kota. Namun
salah seorang teman saya itu justru mengatakan:
“Justru enak Nang, kita tak diperhitungkan. Tak ada beban bagi kita untuk
selalu menjadi lebih baik. Santai aja lah…”
Dan benar itulah yang teman saya itu kemudian wujudkan sesuai kata-katanya
menjadi peringkat teratas dari kelas 1 SMP hingga kelas 3 SMP favorit itu.
Mengalahkan anak-anak yang dulu lulusan terbaik SD kota. Sementara saya naik
turun kondisinya selama di sana.
Jangan kira pula, Adikku, bahwa jalan saya selalu mulus. Saya pun pernah
dapat nilai terendah di salah satu mata pelajaran saat SMA. Meski sudah diberi
kesempatan untuk mengulang ujian lagi… tetap saja nilai saya rendah. Malu ya
pasti. Bahkan saya pernah panggil kepala sekolah SMA karena pakaian saya tak
rapi dan harus ditonton dihadapan dewan guru. Siapa yang tak malu bukan?
Namun satu hal yang pasti Adikku, apa yang kita alami adalah pelajaran
hidup yang selalu berharga. Tak ada gunanya menyesali terlalu lama apa
yang tidak kita miliki. Karena tahukah bahwa apapun yang kita miliki atau
apapun yang terjadi pada kita… itu adalah yang terbaik. Jika engkau mampu
selalu berpikir:
“Inilah yang terbaik saat ini… namun aku harus lebih baik lagi”, Insya
Allah engkau akan melihat jalan itu.
Saya tak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi Allah selalu
memberi apa yang saya butuhkan. Saya pun pernah merasa sedih dan tertekan
ketika apa yang saya inginkan tak tercapai. Menyalahkan ini dan itu. Sama
seperti dirimu saat ini. Tapi akan saya beritahu padamu agar engkau tak terlalu
berlanjut dalam kondisi negatif ini…
“Itu semua tak ada gunanya. Tak ada yang perlu disalahkan. Karena ingat itu
adalah yang terbaik. Mata kita tak secanggih “mata” Allah untuk melihat hikmah
di balik itu semua… maka segeralah bangkit. Tak ada kata terlambat untuk
memulai”
Baik… jujur saya pun mengakui bahwa Allah memberikan pengalaman hidup luar
biasa untuk melihat negeri-negeri lainnya. Ke Jerman maupun ke Jepang kemudian
dalam hidup saya. Itu bukan karena keluarga saya kaya sehingga saya bisa ke
sana, tidak benar demikian, insya Allah. Itu karena hasil perjuangan keras dan
penuh komitmen. Perjuangan seorang Bapak untuk terus mengejar impiannya
menuntut ilmu dan di sisi lain membahagiakan keluarganya, hingga Allah berkenan
mengirimnya sekolah di negeri itu. Dan juga sebuah perjuangan untuk bangkit
dari seorang anak daerah yang jika engkau mencoba tanyakan di mana letak
Bengkulu itu, maka akan lebih banyak yang diam daripada yang bisa menjawabnya.
Tapi ingatlah pula… tak selamanya orang yang pergi keluar negeri adalah
orang yang “wah”. Tak sedikit pula yang hancur karena ia tak memiliki pendirian
yang teguh terhadap arus dunia luar. Maka bersyukurlah bahwa engkau masih di
jaga Allah dalam keluargamu. Dalam nuansa Indonesia yang penuh ukhuwah.
Seindah-indahnya negeri luar… jauh lebih indah negeri sendiri. Itu harus saya
katakan padamu, Adikku.
Baiklah… jika penjelasan saya kurang bisa engkau terima, akan aku ceritakan
satu sosok lagi yang kuharap engkau mau mengambil teladan darinya.
Ia seseorang yang Allah berikan cobaan sepanjang hidupnya. Sejak awal
jejaknya ke dunia tak ada satupun cahaya yang bisa ia lihat, karena Allah
berkehendak menghijab penglihatannya dari dunia yang sudah penuh dosa dan
godaan ini. Iya, betul ia buta Adikku.
Namun dengan kebutaannya itu ia tak pernah berhenti untuk terus berjalan,
meski jalan yang ia lalui tak pernah ia ketahui seperti apa bentuknya. Dengan
keterbatasannya itu… maka jangan bayangkan cobaan apa saja yang harus ia lalui.
Karena tentu di sisinya dirimu lebih beruntung bisa melihat dunia yang juga
penuh warna. Namun tahukah bahwa keterbatasannya itulah yang kemudian menjadi
semangat baginya untuk membuktikan bahwa setiap orang adalah sosok penuh
prestasi dan oleh karenanya berhak serta wajib untuk berprestasi.
Dari semangat seorang buta yang secara umum biasanya hanya akan dianggap
sebagai sosok kurang penting… ia mampu menggebrak dunia. Setidaknya dunianya
sendiri. Ialah Eko Ramaditya Adikara (www.ramaditya.multiply.com). Salah satu sosok
yang sangat diperhitungkan dalam perusahaan video game papan
atas dunia, Nintendo, dan salah satu IT developer profesional
terkemuka Indonesia. Dapatkah engkau bayangkan, Adikku, seorang yang tak bisa
melihat tuts keyboard komputer di depannya mampu membuat blog
dan bahkan tulisan penuh inspirasi lainnya? Bahkan ia mampu membuat gubahan
alunan musik yang indah yang juga digunakan dalam beberapa sound game-game
terkenal.
Dan masih banyak orang-orang lain yang jika dibandingkan dirimu… mereka tak
beruntung… namun mau dan mampu mengubah keberuntungannya!
Maka… masihkah engkau menganggap dirimu orang yang paling malang dan tak
beruntung? Sementara engkau diberi kelengkapan yang begitu sempurna? Masihkah
engkau akan mengeluh? Dan tak bertindak? Masya Allah… mari kita bersama-sama
beristighfar jika masih demikian…”
Demikian balasan saya pada E-mailnya. Dengan sedikit harapan bahwa
setidaknya ada perubahan pada dirinya. Sedikit apapun itu asalkan menjadi lebih
baik… baginya itu adalah prestasi.
Semoga Anda pun selalu dan harus berprestasi!!! Memberi manfaat dan
menginspirasi banyak orang!
(Sumber : http://danangap7.multiply.com/journal/item/32)





0 komentar